Sejarah SMA Bahrul Maghfiroh

        Sejarah didirikannya SMA Bahrul Maghfiroh ini dimulai dari berdirinya pondok pesantren Bahrul Maghfiroh yang mana pada masa hidupnya Romo KH Abdullah Fattah bin Daim Tjitronegoro  biasa dipanggil Mbah Fattah seorang Wali min Awliyaa illah memiliki harapan. Suatu ketika dia bisa memiliki sebuah pondok pesantren. karena selama berpuluh-puluh tahun berdakwah, Mbah Fattah sudah melanglang buana ke hampir seluruh penjuru dunia.
        Namun keinginan itu baru terwujud sekitar tahun 1995 lalu. Adalah Gus Lukman (Gus Edy Lukmanul Karim bin Abdullah Fattah) putra ke sembilan Mbah Fattah, yang berhasil mewujudkan impian itu. Awalnya, pondok pesantren yang akhirnya di beri nama Bahrul Maghfiroh itu, hanya sebuah lahan seluas sekitar 500 meter persegi yang berada di daerah perbukitan di Tlogomas yang masuk wilayah kecamatan Lowokwaru kota Malang.
        Sekalipun masih berada di wilayah kota Malang, namun ketika itu, daerah sekitar pondok, masih belum sepadat sekarang. Orang-orang tidak mau membangun rumah di wilayah tersebut, karena sulitnya mencari air. Apalagi untuk bisa mendapatkan air, butuh perjuangan ekstra keras. Bukan itu saja, di area tersebut juga belum ada aliran listrik. Belum ada jalan. Kalau pun ada masih berbentuk makadam. Tak heran kalau daerah di sana nyaris taklaku di jual.
        Namun Gus Lukman dengan segala upayanya, terus mencoba menghidupkan pondok tersebut. Di awal-awal berdiri, pondok memiliki tiga orang santri. Diantaranya adalah Maulana dan Hasyim. Titik balik pondok, di mulai sekitar tahun 1997. Yakni dengan membangun sebuah masjid di lingkungan pondok putra di jalan Joyo Agung. Masjid itu, menjadi bangunan pertama yang ada di lahan seluas 500 meter persegi tersebut. Ketika itulah, bersama-sama santri yang ada, Gus Lukman mulai membuka Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh. Jelas saja karena wilayahnya yang masih sepi dan nyaris terisolir, lantaran belum ada listrik maupun jalan, tak banyak orang yang tahu sebuah pondok telah berdiri. Namun perjuangan tak pernah berhenti. Upaya terus di lakukan dalam keterbatasan, meski tak mengurangi kekhusyu’an dalam beribadah, maupun terus mengembangkan dakwah.
        Lambat tahun, perbaikan terus ada. Sekitar tahun 2000, barulah pemerintah mengalirkan listrik untuk pondok. Apalagi di waktu itu, beberapa daerah di sekitar mulai di buka untuk perumahan. Bukan hanya listrik, sebagai akses masuk, jalan juga mulai di bangun. Meski untuk air, masih harus beli di PDAM dan mengambil di sungai. Saat itu,jumlah santri juga terus berkembang. Yang awalnya hanya ada tiga orang, di tahun-tahun itu sudah ada sekitar 20 santri yang datang dari berbagai daerah. ”waktu itu,saya menerima santri, tentu saya sesuaikan dengan kemampuan pengasuh.” ujar Gus Lukman.
        Dengan terus memohon kepada Allah SWT serta dari do’a restu Mbah Fattah, pondok terus berkembang dan berkembang. Sistem pembelajaran di pondok juga semakin di baguskan. Yakni, sebuah sistem pondok pesantren yang harus tanpa menerima bayaran sepeserpun dari santri (Balasy). Bahkan sistem itu juga yang kemudian hari, di berlakukan untuk sekolah formal yang berada di naungan pondok.
        Konsep sistem balasyi itu adalah, pengasuh pondok menyediakan kebutuhan santri mulai dari hal yang paling kecil. Tidak hanya santri, tapi juga pengurus pondok dan ustadz (guru). Karena merekalah yang memakmurkan pondok. Kebutuhan kecil seperti pasta gigi, sikat gigi, sabun dan lain-lain, di penuhi semua oleh pondok. Termasuk kebutuhan yang lebih besar lagi. Tujuannya, agar santri, ustadz maupun pengurus pondok, tidak lagi memikirkan kebutuhan pribadi mereka. Apalagi banyak umat Islam yang lemah dari sisi ekonomi. Pondok berharap, para pengurus,santri dan ustadz, tidak memikirkan kelemahan-kelemahan ekonomi bagi orang Islam tersebut. Karena semuanya telah di penuhi pondok dengan adanya hal tersebut, pondok berharap mereka yang menyediakan waktu untuk kepentingan dakwah lewat pondok, harus belajar ikhlas, untuk mengabdikan diri demi agama.

        Kondisi itulah yang di terapkan di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh. Sebuah kondisi santri, pengurus dan guru yang ikhlas di dalam beramal secara tuntas, agar tercipta pendidikan untuk memberikan pelajaran bagai mana melakukan sesuatu dengan ikhlas. karena Ikhlas adalah kunci semuanya di terima oleh Allah. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:”tidaklah Allah memerintahkan orang itu menyembah dan beribadah kecuali dengan ikhlas.” Perkembangan pendidikan di pesantren Bahrul maghfiroh juga tidak lepas dari keberadaan sejarah berdirinya Pondok pesantren

Berita Terbaru

Penyembelihan Kurban Hari Raya Idul Adha

Agenda | 20 Februari 2022

banner
Siswa SMA BM Praktek Bertanam Hidroponik

Doubletrack | 20 Februari 2022

banner
Progam Doubletrack di Unit Usaha Budidaya Puyuh

Doubletrack | 21 Februari 2022

banner